Jumat, 15 Juni 2012

Asal-usul produk kulit Hermes

Kisah Hermes berawal ketika Thierry Hermes, kelahiran kota Krefeld (Jerman) pada 1801, bermigrasi ke Prancis pada usia 27 tahun. Trampil mengerjakan benda-benda berbahan kulit, pada 1837 Thierry membuka sebuah toko berlabel "Hermes" di The Grands Boulevards of Paris untuk segmen bangsawan Eropa.

Jangan dulu membayangkan toko Hermes sebagai sebuah rumah mode yang menjual benda-benda fashion. Pada awalnya Hermes memproduksi dan menjual harness (tali kekang yang biasa diikatkan di kuda untuk menarik sebuah kereta). Jadi bisa dibilang pelanggan toko Hermes bukanlah manusia. Seperti dikatakan Jean-Louis Dumas-Hermes, cucu Thierry Hermes, kepada New York Magazine terbitan 5 Juni 1989, "Pelanggan pertama adalah kuda, karena desain pertama adalah harness."

Dikenal memiliki kualitas produknya, Hermes beberapa kali memenangi penghargaan Exposition Universelle di Paris untuk kategori produk mewah berkualitas terbaik.

Thierry Hermes meninggal dunia pada 1878. Anaknya, Charles-Emile Hermes, menggantikannya. Langkah pertama yang dilakukannya adalah memindahkan toko ke daerah 24 Rue Faubourg Saint-Honoré, masih di kota Paris. Di masa kepemimpinannya, Hermes memproduksi dan menjual pelana kuda secara retail. Dibantu kedua anaknya, Adolphe Hermes dan Emile-Maurice Hermes, pelanggan Hermes meluas hingga kalangan elit di Eropa, Afrika Utara, Rusia, Asia, dan Amerika. Produk berupa tas baru dikerjakan pada 1900 dengan label Haut a Courroies. Tapi tas ini masih untuk pengendara kuda menaruh peralatan seperti pelana, peralatan berburu, dan sepatu boot.

Saat kepemimpinan beralih ke tangan Adolphe Hermes dan Emile-Maurice Hermes, Hermes mulai memperkenalkan produk jaket golf dengan risleting. Hermes juga memproduksi tas tangan pada 1922 dengan label Array Bag. Dibuat untuk istri Emile-Maurice yang selalu mengeluh tak bisa menemukan tas yang cocok untuk dirinya. Untuk memperluas penjualan, pada 1924 Hermes membuka gerai di Amerika. Hermes baru mulai membuat tas tangan untuk dipasarkan pada 1935 dengan label Sac a depeches.

Meski telah menarik hati kalangan sosialita Eropa, tas tangan Hermes baru booming pada 1950-an. Saat itu Putri Kerajaan Monaco, Grace Kellly, menggunakannya sebagai aksesoris ketika "secara tak sengaja" tampil di majalah Life. Saat itu, seperti ditulis Stephanie Pedersen dalam Handbags: What Every Women Should Know, Kelly berusaha menutupi perutnya yang sedang hamil dengan tas Hermes dari jepretan paparazzi. Karena itu pula nama Sac a depeches berubah jadi “the Kelly bag” (tas Kelly). Tas Kelly paling murah oleh Hermes dipatok pada kisaran harga Rp 50 juta.

Selain tas, Hermes kemudian juga merilis syal, gelang, jaket berkuda, ikat pinggang, dasi, parfum, hingga jam tangan. Selama masanya, Émile-Maurice meringkas filosofi Hermes sebagai, "Kulit, olahraga, dan tradisi keanggunan yang halus." Hermes pun lama-lama dikenal sebagai rumah mode.

Setelah Emile-Maurice meninggal pada 1951, tampuk kepemimpinan beralih ke tangan menantunya, Robert Dumas-Hermes. Dumas mematenkan logo perusahaan berlambang seorang duke dengan kereta kudanya yang berwarna oranye. Namun di masa Dumas pula Hermes sedikit oleng karena persaingan dengan perusahaan mode seperti Luois Vuitton. Para ahli memperkirakan, itu terjadi karena Hermes bersikeras menggunakan bahan-bahan alami dari alam dan menolak bahan sintetis buatan manusia. Padahal persediaan bahan alami makin menipis dan susah didapatkan. Tapi Hermes toh tetap bertahan.

Memasuki 1978, Jean-Louis Dumas, putra Robert Dumas-Hermes, tampil. Dia melakukan banyak perubahan signifikan. Dia memperkenalkan produk ekstrem berupa jaket motor yang terbuat dari kulit ular phiton atau celana jins dari kulit burung unta. Lewat sebuah iklan bergambar seorang perempuan muda menggunakan jins dan memakai syal Hermes, dia juga mulai melirik remaja kaya. Strategi tersebut mendongkrak angka penjualan Hermes.

Meski menjual bermacam aksesoris, tas tetap menjadi produk andalan Hermes. Selain the Kelly bag, Birkin adalah tas keluaran Hermes yang legendaris di kalangan pecinta mode. Idenya berawal dari obrolan Jean-Lois Dumas dengan artis Jane Birkin di atas pesawat Paris-London pada 1981. Kepada Dumas, Birkin mengeluhkan sulitnya mendapatkan tas kulit yang cocok untuk bepergian. Pada 1984, Dumas pun menciptakan tas khusus untuk Birkin. Karena banyak peminat, tas itu diproduksi dan dipasarkan.

Dari awal berdiri hingga saat ini, produk-produk tas Hermes dikenal dengan harganya yang fantastis. Ada banyak alasan. Hermes sengaja tak memproduksi tas secara massal. Semua produknya 100% dikerjakan dengan tangan. Mereka menggunakan pengrajin pilihan yang berpengalaman dengan tingkat kemahiran dan ketelitian tinggi. Jahitannya juga khusus. Lama pembuatan tas antara 24-36 jam. Valerie Steele dalam The Berg Companion to Fashion menulis, Hermes dapat bertahan karena mampu menjaga reputasinya sebagai perusahaan yang menghasilkan barang berkualitas super. Tingkat kesempurnaan seperti presisi saat memotong dan menjahit sangat luar biasa.

Sampai saat ini Hermes tetap digandrungi semua perempuan, dari umur 17 sampai 50 tahun di seluruh dunia. Hermes seolah memiliki magnet tersendiri bagi pecinta dunia mode, terutama kaum hawa dari kalangan sosialita. Hermes jadi salah satu penunjuk status sosial.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar